HeadlineKHUTBAH JUMAT

Khutbah Jumat: Makan untuk Berobat

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Makan termasuk kesenangan dunia yang hukumnya mubah. Banyak nash, baik al-Qur’an maupun hadits, yang menjadi pedoman makan. Salah satunya, tidak boros. Boros makan akan menyemai penyakit. Padahal makan, bagi Ibnu Miskawaih dalam Tahdzibul Akhlak, adalah berobat.

Boros makan tak lain adalah makan berlebihan. Allah tidak merekomendasi hal itu, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. al-A’raf/7: 31). Berlebihan menyantap makanan, sekali lagi, sama saja memupuk penyakit di badan.

Nabi bersabda, “Tidak ada tempat yang lebih jelek ketimbang memenuhi perut. Seseorang cukup menyantap makanan sekadar dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas” (HR. Ahmad).

Hadits di atas, jelas sekali menunjukkan bahwa makan bertujuan agar sehat dan kuat. Atau dengan kata lain makan itu untuk mengobati rasa nyeri di perut yang melilit dan rasa letih di sekujur badan. Untuk sehat, perut kita sepertiga berisi makanan, sepertiga untuk minuman, sisanya untuk bernafas.

Ada tips yang bisa dipraktikkan agar makan jadi obat. Misalnya makan sesudah merasa lapar lalu berhenti sebelum terasa kenyang. Tujuannya agar makanan mudah diolah di dalam tubuh agar jadi tenaga. Metabolisme tubuh tidak terhambat karena tidak berat. Merasa sakit sesudah makan karena mengabaikan saran ini.

Tips berikutnya adalah makan dengan kepala, bukan makan dengan hati. Maksudnya, mempertimbangkan kandungan yang diperlukan tubuh secara seimbang itulah makan dengan kepala. Hal ini penting karena tubuh membutuhkan tidak hanya karbohidrat, tapi juga protein dan lemak secara proporsional sesuai fungsi masing-masing.

Sementara makan dengan hati adalah sebaliknya. Yakni, makan dengan sekadar memenuhi nafsu melahap makanan secara berlebihan dan mengabaikan kebutuhan tubuh. Perilaku seperti ini, alih-alih makanan jadi obat, yang didapat justru rasa sakit sesudah makan. Pertanyaannya, apakah selama ini kita makan dengan hati atau kepala?

Nabi mewanti-wanti, “Salah satu ciri berlebihan (israf) kalian makan setiap yang kalian inginkan” (HR Ibnu Mâjah). Yang dimaksud oleh Nabi dalam hadits ini adalah makan dengan hati. Makan dengan hati adalah perilaku berlebihan yang membuat makanan tidak berfungsi sebagai obat, tapi sebagai penyakit. Sejauh ini perkataan Ibnu Miskawaih di atas begitu relevan.

Tips yang hampir sama diungkapkan oleh al-Mas’udi dalam kitabnya Taisirul Khallaq. Pertama, agar makan tidak sampai kenyang. Hendaknya seseorang merasa puas dengan makanan yang ada di hadapan. Maksudnya tidak mengulurkan tangan ke hidangan lainnya, agar makan terukur. Sebaiknya, makanan dikunyah dengan baik lalu ditelan.

Tips seperti ini berlaku pula bagi orang yang berbuka puasa. Dalam kutab Maraqi al-Ubudiyah, Syaikh Nawawi menulis bahwa orang yang berbuka puasa hingga merasa kenyang, maka tidak ada pahala apapun baginya di hadapan Allah. Karena buka puasa tak lain adalah mengobati rasa perih dan mengembalikan tenaga agar kuat beribadah. Jadi, makan itu berobat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button