HeadlineKHUTBAH JUMAT

Khutbah Jumat: Manisnya Ibadah

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Utsman bin Affan mengaku merasakan manisnya ibadah pada empat tempat. Pertama, pada saat melaksanakan berbagai kewajiban yang diperintahkan Allah. Berbagai kewajiban ini, menurut Syaikh Nawawi dalam Nashaihul Ibad menyangkut yang mudah dan yang sulit.

Yang dimaksud yang mudah adalah yang tidak banyak pengorbanan. Seperti berzikir. Sebaliknya yang sulit adalah yang sarat dengan pengorbanan seperti kewajiban melaksanakan ibadah haji. Dalam konteks ini, Imam al-Suyuthi dalam al-Asybah wa al-Nadzair mengungkapkan, “Perbuatan yang lebih banyak pengorbanan mendapat lebih banyak keutamaan”.

Tak hanya Imam al-Suyuthi, Imam al-Zarkasyi dalam karyanya al-Mantsur mengatakan senada, “Perbuatan yang banyak dan sulit lebih utama ketimbang yang tidak seperti itu”. Dalam catatan sejarah umat Islam, baik Imam al-Suyuthi maupun Imam al-Zarkasyi adalah dua ulama kelahiran Mesir. Al-Zarkasyi lahir pada 745 hijriyah sementara al-Suyuthi pada 848 hijriyah.

Kedua, manisnya ibadah itu terletak pada saat menjauhi segala yang dilarang Allah. Yang dilarang Allah itu, bagi Syaikh Nawawi, meliputi yang kecil dan yang besar. Dalam khasanah intelektual Islam, al-Dzahabi menulis dalam karyanya yang tekenal dan monumental yakni al-Kabair tentang 70 dosa besar yang haram dilakukan.

Di antara perbuatan yang dilarang karena berdosa besar itu misalnya syirik, membunuh, sihir, meninggalkan shalat, tidak membayar zakat, termasuk mencela salah seorang sahabat nabi, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Masih banyak ragam dosa besar lainnya yang dihimpun ulama masyhur kelahiran Damaskus pada 673 hijriyah itu.

Ketiga, manisnya ibadah yang dirasakan Utsman adalah dalam beramar makruf dan dalam merengkuh pahala dari Allah. Dalam pandangan Syaikh Nawawi yang dimaksud dengan makruf berbeda dengan baik dalam bahasa Indonesia sebab makruf tidak hanya berarti baik, tapi juga baik dalam pandangan syariat atau sesuai di mata Allah dan rasul-Nya.

Al-Qur’an juga membedakan konsep al-khair dan al-makruf, seperti firman Allah, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran/3: 104). Dalam bahasa kita al-khair adalah kebajikan.

Pada ayat lainnya, kata al-khair kembali dirangkai dalam satu ayat dengan al-makruf. Allah informasikan, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran/3: 110).

Terakhir, pengakuan Utsman soal manisnya ibadah terletak pada takut kepada murka Allah dan mencegah segala kemunkaran sebagai pasangan dari memerintahkan kebaikan. Hanya saja tampaknya mencegah kemunkaran itu lebih berat ketimbang memerintahkan kebaikan. Karena mencegah kemunkaran tidak cukup hanya dengan ucapan tapi juga perbuatan.

Menurut Syaikh Nawawi, perkara yan munkar adalah adalah perbuatan yang tidak mendapat ridha Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Secara literal ridha adalah rela. Rela adalah ikhlas, berkenan, dan dapat diterima dengan senang hati. Semoga Allah senang hati dengan segala yang kita perbuat.*

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button