HeadlineKHUTBAH JUMAT

Khutbah Jumat: Senang Berjumpa Allah

Oleh: KH Syamsul Yakin
Pengasuh Ponpes
Darul Akhyar Kota Depok

Dalam Tanbihul Ghafilin, Abu Laits mengutip hadits Nabi yang bersumber dari Anas bin Malik, “Barangsiapa senang berjumpa Allah, maka Allah senang berjumpa dengannya. Barangsiapa tidak suka berjumpa Allah, maka Allah tidak suka berjumpa dengannya”.

Menurut Abu Laits yang dimaksud dengan “senang” dalam hadits ini adalah manakala seorang muslim mengalami sakaratul maut, dia merasa senang karena mendapat berita gembira akan masuk surga, maka pada saat itu pula dia lebih senang berjumpa Allah alias mati ketimbang hidup di dunia yang penuh dusta dan pura-pura.

Menurut Abu Laits, terhadap orang mukmin tersebut Allah juga senang berjumpa dengannya. Allah kemudian melimpahkan anugerah berupa rahmat, ridha dan cinta kepadanya.

Pertanyaannya, mengapa seorang mukmin tahu bahwa dia bakal masuk surga pada saat sakaratul maut? Jawabannya bisa dibaca pada makna ayat berikut ini, “Maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam” (QS. Qaf/50: 22). Jadi seorang mukmin tahu tempat kembalinya karena pada saat sakartul maut dapat melihat surga sebagai tempat kembalinya.

Kondisi seperti ini diperkut lagi pada etape berikutnya, yakni ketika seorang mukmin sudah ada di alam kubur, bersumber dari Ibnu Umar Nabi bersabda, “Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya (di akhirat nanti) pada pagi dan petang hari. Jika termasuk penghuni surga, maka ia akan menghuni surga, dan jika termasuk penghuni neraka, maka ia akan menghuni neraka. Dan dikatakan kepadanya, “Inilah tempat tinggalmu hingga Allah membangkitkanmu pada hari kiamat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya, menurut Abu Laits yang dimaksud dengan “tidak suka” pada hadits di atas adalah manakala seorang kafir akan dicabut nyawanya, dia merasa tidak suka mati karena diperlihatkan kepadanya siksa yang akan ditimpahkan kepadanya. Terhadap kondisi ini, dia menyesal dan menangis tidak mau mati atau berjumpa dengan Allah.

Menurut Abu Laits, terhadap sikap orang kafir yang tidak sudi berjumpa dengan Allah, maka Allah juga tidak sudi berjumpa dengannya. Allah kemudian menjauhkan rahmat-Nya dan menyiksanya di dalam neraka. Bagi orang kafir, mereka berada di neraka selama-lamanya.

Berdasar penjelasan di atas, tampak jelas bahwa orang yang senang berjumpa dengan Allah adalah orang mukmin yang ahli ibadah. Sebagai balasannya, Allah juga senang berjumpa dengannya dengan menghadiahkan surga sebagai tempat kembalinya. Sementara orang yang enggan berjumpa dengan Allah adalah orang kafir ahli maksiat. Sebagai balasannya, Allah juga tidak sudi berjumpa dengannya. Untuk itu Allah menyediakan neraka sebagai tempat tinggalnya.*

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button